Armand Maulana - Lead Vocal
Selalu timbul pertanyaan di benak Armand kecil saat pimpinan
teater musikal tempat doi beraktivitas menunjuknya sebagai pemeran utama di
hampir setiap persiapan pementasan teaternya itu. Saking seringnya Armand
mengalami hal serupa, tak tertahankan lagi doi memberanikan diri bertanya ama
sang pemimpin kenapa doi selalu mendapat bagian peran utama yang notabene
(karena formatnya adalah teater musikal) porsi nyanyinya pasti terbanyak
ketimbang pemeran-pemeran lainnya. “Pitchkamu sangat bagus
Mand, lagian feeling kamu juga kuat”, demikan jawaban yang
diperoleh dari sang pemimpin. Dan murid SD yang bercita-cita jadi pilot itu pun
cuman manggut-manggut aja. Aktivitas berteater musikal itu berlanjut sampai
Armand duduk di bangku SMP.Fenomena serupa muncul kembali saat Armand udah
masuk di SMU V Bandung. Doi ngikut vocal group yang dibentuk anak-anak SMU V, dan
ama leadernya Armand selalu
didaulat sebagai lead vocal. Yaaahh…sama juga
nasibnya seperti waktu di teater musikal dulu. Ketika ditanyain ke si leader….jawaban yang
diperoleh nggak beda ama jawaban pimpinan teater musikalnya dulu. Pitch ama feeling Armand dinilai cukup kuat.
Nama
asli / lengkap :
|
Tubagus Armand Maulana
|
Tempat / tgl lahir :
|
Bandung, 4 April 1971
|
Motto hidup :
|
" FIGHT TO GET MY
DESIRE "
|
Vocalis favorit :
|
Massive Attack,
William Orbit, Dian Pramana Poetra
|
Jenis music favorit :
|
Semua jenis musik
|
Album solo :
|
Kau Tetap Milikku
(1992)
|
Group :
|
NEXT BAND (1990)
TRIO LIBELS (1991) GIGI (1994 - Sekarang) |
Di sini Armand mulai menyadari kalo doi memang punya kelebihan di
soal olah vokal dan belakangan doi berinisiatif ngajak band pengiring vocal group-nya itu untuk
ngebentuk band dengan doi sebagai vokalisnya.
Begitulah lebih kurang cerita awal mulanya
gimana Armand Maulana akhirnya memperoleh ‘jabatan’ vokalis di blantika musik
Indonesia yang menurut pengakuannya sama sekali nggak kebayang atau terpikirkan
sebelumya. Cuma aja sejak SD Armand memang pencinta berat seni musik. Doi
selalu ngikutin tren musik dunia, bahkan saat SD – waktu musik rock lagi naik
daun banget di awal tahun 80-an – saking gandrungnya doi ama idolanya sampe
dibela-belain ngedaftar jadi anggota Genesis
Fans Club. Doi waktu itu banyak ngoleksi album-album rock kayak Genesis (so pasti jack!), Rush dan sebagainya.
Menginjak SMP di pertengahan tahun 80-an saat
musik jenis fusion mulai membahana, Armand pun nggak
ketinggalan. Rak kasetnya pun dijejali dengan album-album jazz, fusiondan sejenisnya.
Tentang vokalis idolanya yang sedikit banyak
memberi pengaruh pada dirinya sebagai vokalis Armand buka kartu, “Gua kan
nge-fans banget ama Genesis,
gua seneng ama vokalnyaPeter Gabriel, tapi lebih seneng berat lagi saat
vokalnya udah diambil alih ama Phil
Collins”. “Mungkin karena touch
pop-nya lebih kental”, sambungnya. Sampai sejauh mana pengaruhnya ke
karakter vokal Armand? “Kalo ke warna vokal awal-awalnya dulu ada juga sih tapi
gua berusaha mencari dan mencari terus warna vokal gua sendiri”, ujarnya.
Apalagi belakangan semakin banyak aja vokalis dunia berbobot yang jadi favorit
Armand sekaligus bisa juga dijadikan referensi Armand dalam ber-olah vokal
seperti Kenny Loggins,
Jonathan Davis, David Coverdale dan
sebagainya. “Tapi masih ada juga sih yang ngomentarin bahwa saat gua nyanyi
tarikan nafas gua kayak Phil Collins”, lanjutnya.
Ditanya mengenai latar belakang pendidikan
formal di pasal olah vokal, Armand mengaku nggak pernah sama sekali
memperolehnya. Hanya dari pengalaman-pengalamannya aja doi mempelajari dan
menemukan sendiri formulasi olah vokal ala Armand, ditambah – tentu saja –
kemampuan doi ber-olah vokal yang udah bawaan dari ‘sononya’.
Ada fenomena menarik dari teknik ber-olah
vokal Armand. Doi justru sering nemuin teknik ataupun style vokal dari ‘kecelakaan-kecelakaan’
yang doi alami saat manggung maupun rekaman.
Kecelakaan? Ya! Yang dimaksud kecelakaan itu
misalnya saat doi manggung, di suatu lagu dia meneriakkan nada tinggi dan
dirasakan teriakan itu kok beda ya ama teriakan di lagu yang sama saat bawain
lagu itu sebelum-sebelumnya. Tapi yang beda itu dirasa-rasa jadi malah bagus.
Dan Armand pun mulai mempelajari ‘kecelakaan’ tadi, setelah itu jadilah cara
teriak yang ‘kecelakaan’ itu sebuah ‘jurus’ baru dalam ber-olah vokal bagi Armand.
Seperti saat take vokal di lagu “Kuingin”,
Baron sempat berkomentar “Wah suara elo sexy banget Mand!”, Armand pun penasaran.
Yang dimaksud suara sexy gua ama si Baron itu suara gua yang
gimana sih, pikir Armand. Doi pun mendengarkan berulang-ulang lagu Kuingin tersebut. Akhirnya dapet juga.
Ternyata di bagian-bagian tertentu saat Armand melantunkan lagu itu (tak
disengaja) suara seraknya keluar. Nah, ini kan kecelakaan. Tapi justru akhirnya
jadi salah satu dari ciri khas dan kekuatan vokal Armand.
Kala di panggung bersama GIGI kita sering
lihat Armand sambil nyanyi sepanjang konser lari sana lari sini, lompat sana
lompat sini nyaris tanpa mempengaruhi kekonstanannya bernyanyi. Nafasnya boleh
dibilang sama sekali nggak ngos-ngosan. Apa rahasianya?
Ada satu cerita! Saat Thomas jadi supervisor sebuah band baru, doi sempat minta
tolong Armand buat membeberkan rahasia tersebut ke vokalis band baru tersebut,
dengan kata lain bagi-bagi ilmulah buat juniornya. Armand sempat bingung,
“Lhah, gua harus jelasin gimana? Orang gua sendiri nggak tau gimana gua bisa
begitu”, ujar Armand ke Thomas.
Ini jelas pasal pengaturan nafas saat nyanyi.
Dan bagi Armand itu berlangsung begitu aja secara alamiah tanpa suatu teori
yang baku. Tanpa disadari ternyata Armand memiliki pola pernafasan tertentu
yang bikin doi tahan nyanyi banyak lagu sambil terus blingsatan ke seantero
panggung.
Sialnya doi nggak bisa ngejelasin hal itu
secara teoritis. Misalnya, kalo ngambil nada kayak gini, tingginya segini,
ngambil nafasnya begini di kata yang ke sekian. “Mungkin dengan bantuan seorang
guru vokal baru bisa nerjemahin teknik-teknik vokal gua ini secara teoritis”,
ujar Armand.
Ada rencana ke arah itu? “Sekarang ini belum,
pengen juga sih benernya dengan bantuan guru vokal gua tuangin pengalaman
‘kecelakaan’ gua itu ke dalam satu buku secara teoritis”,ungkap pengagum Nabi
Muhammad SAW ini. “Mungkin suatu saat nanti”, sambungnya lagi. Iyalah Mand,
itung-itung bagi pengalaman buat junior-junior elo.
Kalo soal stage
act-nya yang oke punya itu – yang jadi salah satu andalan GIGI saat
konser – Armand mengaku nggak tahu mendapat pengaruh dari mana. “Beberapa orang
ada yang ngomong gaya gua di panggung kayak Mick
Jagger, ada juga yang ngomong kayak vokalisnya Red Hot Chili Pepper (RHCP)”, jelasnya. “Tapi gua nggak
punya koleksi videoMick Jagger ataupun Rolling Stones, gua juga nggak
pernah nonton secara khusus videonya RHCP. Pernah sih nonton RHCP live yang disiarin di TV, itupun baru-baru
aja saat mereka konser di Rusia”, sambung Armand menjelaskan. Menurut penggemar
warna merah ini stage act-nya
semata-mata berangkat dari tema lagu dan musik yang dibawain, dia dengerin,
dihayati, ya udah terus gaya panggungnya ngalir begitu aja tanpa persiapan
khusus.”Gua juga nggak pernah belajar dance atau apa yang ada kaitannya ama stage act”, tandasnya.
Beberapa waktu yang lalu Dewi Gita merilis
album barunya yang berjudul “Kegaiban Biru”. Yang menarik album ini
diproduseri sendiri ama suaminya yang tak lain adalah Armand Maulana.
Tentang motivasinya memproduseri album
istrinya sendiri Armand menjelaskan bahwa doi nggak pengen berhenti cuman
sebatas jadi penyanyi aja, salah satu obsesinya ya jadi produser musik tadi.
“Terserah album itu meledak atau enggak itu urusan nanti, yang penting obsesi
gua tercapai dulu”, ungkap Armand.
Kenapa harus istri sendiri? Penggemar
olahraga basket ini menjelaskan bahwa lebih karena keberaniannya aja dalam
menggarap produksinya yang perdana ini. Doi pasti udah bener-bener mengenal
karakter vokal, musik jenis apa yang kiranya cocok untuk Dewi Gita. Singkatnya
doi sebagai produser musik udah bener-bener mengenal dan memahami materi dan
kapasitas artis yang digarapnya itu. Paling tidak doi bisa menimba pengalaman
untuk penggarapan proyek-proyek berikutnya.
Sudah ada rencana untuk proyek berikutnya?
“Berikutnya gua pengen nggarap penyanyi cowok yang rada kental warna rocknya,
sudah ada sih calonnya tapi belum fixed banget”, jelasnya.
Soal proses kreatifnya Armand menjelaskan
sekitar 70% diawali dengan pembentukan susunan chord-nya dulu baru kemudian
melodi lagunya. Komposisi dan aransemennya doi mengaku banyak terpengaruh Massive Attack dan William
Orbit sampe-sampe masalah panning sound pun doi ulik abis.
Untuk lirik doi banyak mendapat referensi
dari karya-karya Kahlil Gibran dan beberapa pujangga dunia lainnya.
Armand juga menyimak lirik-lirik lagu barat selain tentu saja memonitor tren
lirik yang sedang berlaku di Indonesia. Doi kasih gambaran kalo di saat
album-album awal GIGI dulu yang disukai lirik yang rada puitis, dengan ungkapan
dan kiasan-kiasan. Tapi sekarang lebih disukai yang langsung-langsung aja. Kalo
mau nyampein gua cinta ama elo ya langsung aja, nggak pake kata bersayap lagi.
Ditanya tentang komposisi karyanya yang
pertama, “Kalo bikinnya bareng-bareng ya sejak album pertama GIGI, kalo yang full karya gua sendiri ya baru di album
Dewi ini tepatnya lagu Luluh
Olehmu”.
Okai Mand, selamat berkarya! (*res)








